Trans-Sumatera Berbenah

teamenmo

Jalan Tol Trans-Sumatera terus berbenah menyambut pemudik. Kemacetan, minimnya tempat istirahat, dan ancaman tindak kejahatan tetap perlu diwaspadai saat melintasi jalur ini.

 

 

KOMPAS Pemerintah terus membenahi Jalan Tol Trans-Sumatera dari Bakauheni, Lampung, hingga Palembang, Sumatera Selatan, agar siap digunakan pada tujuh hari menjelang Lebaran atau H-7. Masalah seperti kemacetan, minimnya tempat istirahat, dan tindak kejahatan tetap perlu diwaspadai pemudik saat melintasi jalan tol sepanjang 366 kilometer tersebut.

Kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, jalan tol itu diprediksi akan dilintasi 88.335 kendaraan pada masa mudik Lebaran tahun ini. Ruas jalan yang sudah operasional dari Bakauheni hingga Terbanggi Besar (139,9 kilometer). Adapun ruas Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung masih fungsional, dan ruas Kayu Agung–Palembang masih dalam pengerjaan.

Penelusuran Kompas, Selasa hingga Sabtu (14-18/5/2019), pembenahan Jalan Tol Trans-Sumatera terus dilakukan, mulai dari pengerasan jalan, pembangunan tempat istirahat darurat, hingga penyediaan stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).

Saat meninjau Tol Trans-Sumatera, Selasa (14/5), Tenaga Ahli Utama Pengendalian Pembangunan Monitoring dan Evaluasi Program Prioritas Nasional Bidang Infrastruktur Kantor Staf Presiden Febry Calvin Tetelepta memperkirakan, minat masyarakat untuk melintasi Jalan Tol Trans-Sumatera cukup tinggi. Selain karena tertarik mencoba jalan tol baru, mahalnya harga tiket pesawat juga akan membuat masyarakat memakai jalur darat.

Secara terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan, pemudik bisa melewati Tol Trans-Sumatera dari Bakauheni hingga Palembang. Namun, ruas Pematang Panggang-Kayu Agung-Palembang belum rampung dikerjakan. Ada ruas yang belum dilapisi aspal dan yang masih berupa jalan tanah.

Untuk ruas tol yang fungsional hanya beroperasi pada pukul 06.00-18.00. Meski belum tuntas, Jalan Tol Trans-Sumatera dapat memangkas waktu tempuh Bandar Lampung-Palembang hingga enam jam dibandingkan melalui jalan lintas timur Sumatera yang memakan waktu sekitar 12 jam. Namun, sejumlah persoalan seperti potensi kemacetan perlu diantisipasi.

Kemacetan dapat terjadi di sejumlah pintu keluar karena adanya penyempitan jalur atau jalan rusak dari arah jalan tol menuju jalan nasional atau arteri. Beberapa titik yang rawan macet, seperti di Gerbang Tol Bakauheni, karena banyak kendaraan berpotensi masuk bersamaan seusai turun dari kapal penyeberangan.

Selain itu, kemacetan karena penyempitan jalan dapat terjadi di gerbang keluar Simpang Pematang, Pematang Panggang, Kayu Agung, dan Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Adapun titik rawan macet karena jalan rusak berada di pintu keluar tol Kota Baru.

Tempat istirahat darurat
Hal lain yang berpotensi mengganggu kenyamanan mudik adalah minimnya tempat istirahat di Tol Trans-Sumatera. Dari Bakauheni hingga Palembang, hanya ada tempat istirahat darurat.

Ada 11 tempat istirahat darurat yang dipersiapkan dari Bakauheni hingga Pematang Panggang. Fasilitas darurat ini memakai kontainer sebagai ruang shalat, istirahat, dan kantin. Disediakan juga toilet dan SPBU modular milik Pertamina.

 

Warga juga membangun warung tenda yang menyediakan makanan, minuman, toilet, dan balai istirahat. Namun, pengendara harus memarkir kendaraan di bahu jalan sehingga dapat memicu kemacetan jika terjadi penumpukan kendaraan di tempat istirahat darurat.

Sales Executive Ritel Rayon V Pertamina Sumatera Bagian Selatan Ferry Fernando menjamin kebutuhan bahan bakar untuk pemudik melalui Tol Trans-Sumatera. ”Kami menyiapkan Pertamax dan Solar Dex, tetapi jumlah di setiap rest area berbeda, 3 kiloliter sampai 5 kiloliter,” ujarnya.

Pertamina juga menyiapkan bahan bakar kemasan 5 liter dan 10 liter. Namun, pemudik tetap perlu membawa bahan bakar cadangan untuk antisipasi kekurangan di perjalanan. Pasalnya, di ruas Kayuagung-Palembang tak tersedia tempat istirahat.

Masalah lain yang perlu diantisipasi adalah tindak kejahatan yang mungkin terjadi di beberapa ruas jalan tol, seperti di jalur Tulang Bawang, Lampung, hingga Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Di jalan non-tol di kawasan ini kerap terjadi penodongan atau pemerasan dengan senjata tajam.

Kondisi rawan ini tak lepas dari minimnya penerangan jalan dan tiadanya pagar yang membatasi area tol dengan lahan perkebunan. Kawasan di sekitar tol juga jarang ditemui permukiman penduduk.

Sekretaris Asosiasi Jasa Pengiriman Logistik Sumatera Selatan Haris Jumadi mengakui, sopir truk logistik kerap diperas di Jalintim di kawasan Mesuji, di perbatasan Lampung-Sumatera Selatan. Kondisi ini bisa menjadi potensi bergesernya tindak kriminal ke jalan tol.

Penembak jitu
Untuk meningkatkan keamanan, Haris mengusulkan ada patroli jalan raya, penjagaan di pintu-pintu tol, dan pusat panggilan darurat yang aktif dan tersosialisasikan dengan baik.

Terkait hal itu, Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Zulkarnain Adinegara menjamin tak akan ada tindak kriminal bagi pemudik. Sebanyak 2.000 personel, termasuk penembak jitu (sniper), telah disiapkan. ”Tim sniper disiapkan untuk mengantisipasi sejumlah bentuk kejahatan, seperti begal dan bajing loncat,” katanya.(AIN/RAM/SKA/XTI/REN/MEL/IRE)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *