Karunia Utama

adminenmoido


Firman Tuhan hari Minggu ini, 1Kor 12:12-31a berbicara tentang “Banyak anggota, tetapi satu tubuh” dalam kaitannya dengan karunia rohani. Rasul Paulus menggunakan konsep tubuh manusia untuk mengajar kita orang Kristen bagaimana untuk hidup dan bekerja bersama-sama. Sama seperti seluruh bagian dari tubuh berfungsi karena diperintah otak, demikian juga kita harus bekerja bersama di bawah kendali dan perintah Yesus Kristus (band. Rm 12:3-8; Ef 4:1-16).

Allah membekali kita karunia rohani untuk membangun tubuh Kristus yakni jemaat-Nya. Agar karunia rohani dipakai dengan efektip, diperlukan hal sebagai berikut:
1.     Menyadari bahwa semua karunia rohani berasal dari Allah;
2.     Memahami bahwa tidak semua orang memiliki karunia rohani yang sama;
3.     Mengenal siapa diri kita dan apa yang terbaik untuk diberikan;
4. Menghargai anggota yang lebih lemah dan satu dalam suka dan duka.
5.    Mempersembahkan karunia itu bagi Tuhan dan bukan untuk kepentingan dan keberhasilan diri sendiri;
6.     Bersedia memakai karunia rohani itu dengan sepenuh hati untuk pelayanan kepada Tuhan, bukan menahan atau menyia-nyiakannya;

Karunia rohani berbeda di dalam sifat, kekuatan, dan efektifitasnya sesuai dengan hikmat dan keluwesan. Peranan kita adalah tetap setia dan mencari cara dan jalan melayani-Nya melalui apa yang telah diberikan-Nya. Karunia rohani dibagi dalam tiga katagori, yakni: karunia rohani melalui perkataan atau berbicara, karunia rohani melayani dan memberi, dan karunia rohani untuk membuat mukjizat. Karunia rohani yang ada itu semua satu tubuh dan rinciannya merupakan anggota-anggota saja, dan semua memiliki akses dan diperlengkapi oleh Roh Kudus untuk membangun keluarga Allah dan menyatakan kasih Allah kepada orang lain (1Kor 12:4-7; 1Kor 14:12; 1Pet 4:10).

Pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa karunia rohani yang kita miliki tidak dapat bekerja sendiri, melainkan memerlukan dukungan karunia rohani yang lain. Untuk itu kita wajib berterima kasih kepada mereka yang memiliki karunia rohani yang berbeda, sebab dapat melengkapi pelayanan yang kita miliki. Biarkanlah kekuatan kita menutupi kelemahan orang lain, dan kekuatan orang lain menutupi kelemahan dan kekurangan kita, dan sekaligus kita bersyukur atas hal itu. Karunia rohani jangan dibuat menjadi kuasa rohani, yang menimbulkan persaingan; berpikir kita merasa “lebih rohani” atau bahkan memiliki hak otoritas tertentu yang lebih tinggi. Sikap kita harus tetap sebagai orang yang tidak layak memperoleh karunia itu, namun Allah membuat kita demikian berharga.

Prinsip dalam mempersembahkan hidup melalui karunia rohani adalah selalu dalam kebersamaan dengan orang lain yang membuat lebih baik dalam melayani Tuhan. Semua dilakukan dengan sepenuh hati dalam semangat pelayanan pengabdian. Sebagaimana dinyatakan pada ayat terakhir (31a): “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama.” Karunia utama itu adalah hikmat dan kasih dengan tujuan mempersatukan. Halleluya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *