Kantor Gubernur Sumut Merupakan Bangunan Peninggalan Kolonial

Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tepatnya di Kota Medan, merupakan daerah yang tak terlepas dengan Negeri Belanda.

Seperti sejarah bangunan-bangunan di Medan yang berkaitan dengan eksistensi Belanda pada masa lampau, hari Selasa (9/7/2019).

Bangun yang berkaitan dengan Negeri Belanda atau Kolonial di Medan, yaitu Bangunan Kantor Gubernur Sumut yang merupakan bangunan peninggalan Kolonial.

Bangunan Kantor Gubernur yang berkonsep arsitektur Neo Klasik yang dipengaruhi renaissance.

Hal ini terlihat dari penggunaan balustrade pada puncak atap bangunan sebagai buffer dari panas matahari dan masing-masing jendela dilengkapi folding awning yang terbuat dari bahan tekstil yang didukung dari bahan konstruksi kayu.

 

Bangunan Kantor Gubernur Sumut peninggalan kolonial.
Bangunan Kantor Gubernur Sumut peninggalan kolonial. (TRIBUN MEDAN/AQMARUL AKHYAR)

 

Gedung tersebut dibangun pada tahun 1913. Pada masa itu dibangun bertujuan untuk dibuat sebagai tempat gedung Deli Proefstation yang besar, dan selesai pada tahun 1916.

Pada tahun 1926 bangunan Deli Proefstation ini difungsikan sebagai Kantor Gubernur Sumatera Timur dan pada tahun 1936 sampai saat ini bangunan tersebut difungsikan sebagai Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Kemudian, pada waktu muncul kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik asing di Indonesia pada tahun 1960, lahan beserta bangunan yang sudah menjadi Kantor Gubernur Sumatera Utara menjadi milik PT. Perkebunan Nusantara II.

Namun, sesuai isi prasasti yang terdapat dalam bangunan tersebut, sejak 15 Desember 2008 Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku kuasa pemegang saham PT. Perkebunan Pertanian II (Persero) Tanjung Morawa menyerahkan tanah dan bangunan (eks. Eigendom Verponding No. 42 atas nama N.V. Verenigde Deli Maatschappij) kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk tetap digunakan sebagai Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Bangunan Kantor ini pernah digunakan sebagai ruangan Staff Ahli Gubernur Sumut, pernah menjadi Kantor KPPU Sumut, Kantor Sekda Dinas Provinsi Sumut (Nurdin Lubis). Sekarang gedung tersebut dipergunakan oleh Dinas Provinsi Sumut sebagai tempat menerima tamu yang berkaitan dengan kegiatan Dinas Provinsi Sumut.

 

Namun, dahulu masa Gubernur Sumut, Gatot Pujonugroho, bangunan itu digunakan sebagain tempat menerima pendemo untuk mediasi dan menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Sumut.

Akan tetapi keberadaan Kantor Gubernur Sumatera Utara ini juga berhubungan dengan kiprah seorang pengusaha Belanda bernama Jacob Nienhuys dalam penanaman tembakau yang dilakukan di daerah Deli, Sumatera Utara pada tahun 1863.

Pada masa itu, pembukaan lahan-lahan perkebunan dengan menyewa tanah konsesi dari Kesultanan Deli maupun masyarakat semakin meluas. Pada Maret 1864, contoh tanaman tembakau dikirim ke Rotterdam di Belanda untuk menguji kualitasnya.

Ternyata daun tembakau Deli berkualitas tinggi untuk pembukus cerita. Akhirnya, tembakau Deli menjadi komoditas utama dari perkebunan di Sumatera Utara yang sangat digemari oleh orang-orang Eropa.

Selanjutnya, dua tahun setelah dilakukan perjanjian tembakau antara Belanda dengan Sultan Deli pada tahun 1865, Jacob Nienhuys dengan Peter Wilhelm Janssen, A. Clemen dan Jacob Theodor Cremer mendirikan N.V. Verenigde Deli Maatschappij, suatu badan usaha milik pengusaha swasta Belanda yang membawahi sekitar 75 daerah perkebunan di Sumatera Timur yang berasal dari usahawan mancanegara seperti Jerman, Inggris, Swiss, Belgia dan Amerika.

Pada tahun 1869, kantor pusat Deli Maatschappij dipindahkan dari Labuan, Deli ke Kampung Medan. Perpindahan ini akhirnya diikuti pula oleh sejumlah perusahaan perkebunan lainnya. Dengan pengalihan ini, Medan dengan cepat berkembang menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan.

Seiring itu pula, muncul sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh tanaman tembakau, seperti serangan hama atau kerusakan kebun tembakau. Hal ini menyebabkan Deli Maatschappij mendirikan sebuah lembaga yang bekerjasama Kebun Raya Bogor pada tahun 1894. Sebuah penyakit pada bibit tanaman memicu penelitian botani secara ilmiah.

Pada masa itu hal ini masih menemui kendala, karena penyakit tanamannya berada di daerah Deli akan tetapi penelitiannya berada di Bogor.

Kemudian, pada tahun 1906 Deli Maatschappij menjadikan lembaga tadi menjadi lembaga independen yang juga meneliti tumbuhan lainnya selain tembakau.

Lalu, lembaga independen tersebut diberi nama Deli Proestation voor Tabak te Medan (Pusat Penelitian Tanaman Tembakau di Medan). Deli Proefstation berasal dari gabungan dua kata, yaitu Deli dan Proefstation.

Deli menunjukkan daerah di mana perkebunan tembakau itu berada, sedangkan Proefstation berarti laboratorium tempat percobaan dalam lapangan pertanian. Jadi, Kantor Gubernur Sumut meruoakan bekasa tempat Deli Proefstation, yaitu laboratorium atau tempat penelitian dalam bidang pertanian di daerah Deli.

 

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Kantor Gubernur Sumut Merupakan Bangunan Peninggalan Kolonial
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Feriansyah Nasution

 

 

Author: Team Enmoido

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *