Ekspor Buah dan Sayuran Lokal Terganjal Biaya Logistik Tinggi

adminenmoido

Tingginya biaya logistik menjadi penghambat ekspor buah dan sayuran lokal asal Indonesia. Padahal, banyak negara asing yang tertarik mendatangkan buah dan sayuran lokal asal Indonesia.

Demikian diungkapkan Senior Expert Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Bandung, Helma Agustiawan, di Bandung, Senin, 21 Oktober 2019. Menurut dia, pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) saja ada potensi ekspor buah dan sayuran dengan nilai kontrak sebesar 4,5 juta dolar Amerika Serikat (AS) ke Singapura.

“Dari harga dan kualitas produk, Indonesia jauh lebih unggul. Akan tetapi, saat berhadapan dengan biaya logistik, kita kalah dengan Malaysia,” tuturnya.

Indonesia harus mengirim buah dan sayuran tersebut dengan menggunakan pesawat. Biayanya tentu akan lebih tinggi dibandingkan dengan buah dah sayuran asal Malaysia yang dikirim menggunakan sarana transportasi darat ke Singapura.

“Selama ini biaya logistik memang menjadi persoalan terbesar bagi pelaku usaha Indonesia, apalagi ekspor. Sampai saat ini belum ada solusinya,” ujar Helma.

Ia meminta agar pemerintah mau turun tangan membantu memecahkan persoalan tersebut. Menurut dia, jika masalah biaya logistik terpecahkan, ekspor senilai 4,5 juta dolar AS sudah di tangan.

“Ini sudah pasti, kok, bukan pembicaraan mengawang-awang. Masalah biaya logistik terselesaikan, proses ekspor bisa dimulai,” katanya.

Bahkan, menurut dia, akan membuka peluang ekspor ke negara lain, seperti negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin. Seperti halnya Singapura, mereka tertarik dengan buah dan sayuran asal Indonesia, tapi terganjal biaya logistik.

“Sebetulnya dari dulu buah dan sayuran Indonesia banyak diminati buyer dari luar negeri. Mangga gedong gincu misalnya. Jepang tertarik untuk mendatangkan mangga gedong gincu dari Indonesia,” katanya.

Hanya saja, ekspor mangga gedong gincu ke Jepang terganjal isu lalat buah. Untuk menyelesaikan persoalan lalat buah ini, menurut Helma, diperlukan mesin FAT yang harganya Rp 5 miliar-Rp 12,5 miliar.

“Sampai sekarang para petani mangga gedong gincu belum mendapatkan fasilitas bantuan untuk mesin ini. Akibatnya, ekspor pun belum bisa dilakukan,” tuturnya.

Selain persoalan logistik dan teknologi tepat guna, menurut Helma, ada satu hal lagi yang harus dilakukan pemerintah guna menggenjot ekspor sayuran dan buah lokal Indonesia. Pemerintah, menurut dia, harus mendukung penelitian terkait teknologi pengawetan buah dan sayuran secara alami.

“Beberapa waktu ada rencana penelitian pengawetan buah dan sayuran dari dosen di salah satu perguruan tinggi ternama, tapi ditolak. Padahal teknologi seperti ini diperlukan untuk dunia usaha,” tuturnya.

Seperti diketahui, menurut Frost and Sullivan, Indonesia memiliki biaya logistik termahal di Asia. Biaya logistik do Indonesia mencapai 24% Produk Domestik Bruto (PDB).

Negara Asia lainnya yang memiliki biaya logistik tinggi adalah Vietnam, Thailand, dan Tiongkok. Secara berturut-turut biaya logistik dari Vietnam mencapai 20% PDB, Thailand 15% PDB, dan Tiongkok 14% dari PDB.

Sementara itu, biaya logistik di Malaysia, Filipina, dan India sebesar 13% terhadap PDB. Biaya logistik Taiwan dan Korea Selatan 9% terhadap PDB, sedangkan Singapura dan Jepang hanya 8% terhadap PDB.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *